Gita Cinta Najwa

Oleh: iyoshi

Aku duduk terpaku di samping sebuah ranjang besi yang hanya muat untuk satu badan. Ranjang berkasur busa dan berbalut seperai putih itu di atasnya terdapat tubuh ayu putri kecilku. Ya, sudah lebih dari dua minggu ia berbaring di sini dengan selimut putih tipis bergaris terhampar. Cairan berisi vitamin dan mineral pun masih tetap mengalir melalui selang bening melalui tangan sebelah kiri.

Aku berdiri dan masih terpaku. Ku pandangi senyum manisnya. Dalam hatiku aku menjerit, tapi takjub. Sungguh aklu begitu takjub. Begitu luar biasa Najwa-ku. Gadis sekecil Najwa masih mampu bertahan dalam keadaan yang tergambar begitu berat. Dokter berkali mengatakan maaf kepadaku, aku tahu itu tanda hampir tiada lagi harapan yang Najwa miliki. Namun, terkadang aku sangat begitu optimis, Najwa kecilku pasti akan kembali berlari mengejar pelangi yang paling ia kagumi. Aku begitu yakin Najwa akan bisa menebar senyum manis dan salam hangatnya setiap pagi, kepadaku, kepada mereka, kepada dunia. Tetapi… terkadang juga aku tidak tega lagi melihat buah hati kecilku sendirian bertarung melawan sakit yang membuatnya melepas wajah lucunya.

“Bunda.. bunda.. bunda..” igau Najwa lirih.

Aku kembali duduk dan ku genggam tangannya. “Bunda akan datang sayang, bunda akan datang…” bisiku.

Entah, sudah hampir satu minggu Najwa tak sadarkan diri, selama itu pula ia selalu mengigau, memanggil-manggil seorang wanita yang dulu sempat mengisi ruang-ruang hati ini. Wanita yang saat ini begitu aku benci, meskipun tidak benar-benar aku benci karena hati kecilku masih ada rasa sayang. Wanita itulah yang telah melahirkan Najwa. Wanita yang juga telah meninggalkanku ketika aku jatuh dari kerajaan bisnis. Ya, wanita yang pergi entah kemana saat kami berada dalam batas yang sebagian orang menyebutnya hina. Miskin. Miskin secara mendadak. Meskipun mungkin kepergiannya bukan karena aku miskin. Entahlah.

Kadang selintas aku berfikir, jika ibundanya datang dapat menjadi obat untuk Najwa, atau setidaknya aku bisa memberikan sesuatu diakhir masa Najwa. Tetapi belum juga aku temukan, selama sudah berkali keliling kota aku mencoba mencari Sarah. Aku pun telah meminta bantuan kepada teman, sodara, untuk mencari Sarah, namun belum juga kabar keberadaannya aku terima. Beberapa kali aku titipkan pesan lewat radio yang dulu, entah sekarang, menjadi radio yang hampir setiap pagi dan malam diperdengarkan kepadaku olehnya, tetap kosong yang ku dapat. Semakin sulit karena aku tidak bisa menanyakan kepada orang tuanya yang telah tiada. Keluarganya yang lain pun selalu senada. Tidak tahu. Entah ia sudah menjadi mantan istriku, atau belum. Jelasnya kata talak belum pernah ku ucapkan.

“Bunda.. Bunda….” Najwa-ku kembali memanggil wanita yang dulu amat sangat aku cintai.

Akupun kembali menggenggam erat tangan Najwa seraya membisikan bahwa bundanya akan datang, meskipun mungkin itu sebuah kebohongan. Terkadang aku merasa sangat begitu bersalah, karena ketika Sarah meminta aku mengijinkannya membawa Najwa aku menolaknya dengan keras. Akupun semakin merasa bersalah, karena ketika Sarah sering menelponku untuk menanyakan kabar Najwa aku selalu menyuruhnya tidak usah menanyakan kabar Najwa lagi dengan alasan Najwa akan baik-baik saja jika bersamaku.

— 000 —

“Arbi…” panggil seorang pria yang aku kenal suaranya.

Aku menoleh ke arah Bagas. salah satu teman yang membantuku mencari Sarah. Ia berdiri persis di depan pintu, beberapa meter saja dariku. Di sampingnya seorang wanita dengan sepatu berhak tinggi, memakai rok sedikit di bawah lutut, dan saya tahu gaunnya mahal. Bibirnya dibalut lipstik tipis, wajahnya begitu putih, rambutnya ia atur sedemikian rupa sehingga membuatnya begitu anggun dan kacamata hitam yang menutupi matanya. Aku hampir tak mengenalinya. Sampai salam terucap dari bibirnya.

“Mas Arbi… Assalamu’alaikum.”

Seakan aku tak percaya, aku tak mampu mebalas salamnya, aku tak mampu berkata. Ini Sarah. Istriku, ibunda Najwa, wanita yang telah meninggalkan kami kini telah kembali dengan semua perubahan besarnya. Ya, penampilannya benar-benar mebutakan mataku, namun suara lembutnya masih aku ingat.

Ia hanya menundukan kepala menuju tempat duduk di sebelah Najwa. Di depanku. Tangan kiri Sarah memegangi tangan kiri Najwa sedangkan tangan kanannya membelai lembut kepala Najwa. Ya, Sarah memang masih begitu sayang kepada Najwa. Aku semakin merasa bersalah, karena secara tidak langsung aku yang memisahkan Najwa darinya.

— 000 —

Seperti ada sebuah mu’jizat yang datang. Atas izin-Nya, Najwa membuka matanya perlahan. Najwa melihat sekeliling ruangan. Najwa pun melihat sosok yang selama ini ia rindukan.

“Bunda…” ucap Najwa sembari melebarkan senyumnya.

“Ia sayang, bunda di sini menemani Najwa…” jawab sarah.

“Bunda… bunda jangan ninggalin Najwa lagi ya bunda, bunda jangan ninggalin Najwa dan Ayah lagi…” Najwa merengek manja.

“Ia Najwa-ku Sayang, bunda tidak akan meninggalkan Najwa dan Ayah lagi” Sarah berucap terbata

“Ayah, Bunda…” ucap Najwa kecilku seraya menoleh ke arahku dan bundanya, “Najwa sayang sama Ayah dan Bunda…”

“Ia Najwa sayang, ayah dan bunda juga sayang sama Najwa” ucapku lirih..

“Ayah, Bunda, Najwa ngantuk, najwa pengen bobo…”

“Iya bobo yang nyenyak ya Sayang…” aku dan sarah meng-iya-kan ucapan Najwa. Najwa menutup kembali mata beningnya. Mulut mungil Najwa berkomat kamit seperti berujar sesuatu. Aku mendekatkan telingaku ke arah suara lirih itu. Samar ku dengar lantunan kata berbahasa arab keluar dari mulut Najwa. Mungkin doa sebelum tidur yang tidak pernah ia lewati sebelum bermimpi. Sampai tiba-tiba tangan Najwa yang mungil itu menggenggam erat jemariku. Sesaat ia mengembangkan dada. Lalu tubuhnya terkulai lemah, genggaman eratnya pun terlepas. Sarah terlihat panik.

“Sayang… Najwa… Nak… Mas, Najwa kenapa mas?” ucap Sarah kepadaku “Mas Bagas, tolong panggilin dokter,” pinta Sarah pada Bagas yang langsung berlari keluar ruangan.

Aku mencoba merasakan nadi Najwa. Tapi tak ku rasakan lagi detaknya. Aku lemas.  Lututku menjadi tumpuan ketika kujatuh lemah. Terdengar Sarah menangis. Aku yang semakin merasa berdosa hanya mampu menatap raga Najwa yang enggan lagi bergerak, atau sekedar menjentikan jari. Air mataku mengalir, Najwa kecilku telah pergi. Namun sebelum pergi ia sempat menggoreskan gita cinta untuk kami.

Yogyakarta, 04 Januari 2010

One thought on “Gita Cinta Najwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s