Demokrasi Anarkis

Indonesia terus belajar demokrasi. Dari demokrasi semu ala orde baru sampai demokrasi super liberal ala reformasi. Adanya stigma bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan paling baik menjadikan tuntutan demokrasi, khususnya di Indonesia, kian kuat. Salah satu nilai yang terkandung dalam demokrasi adalah diberikannya hak menyampaikan pendapat kepada masyarakat. Artinya jika warga negaradapat secara bebas menyampaikan aspirasi, opini, pendapatnya maka negara itu merupakan negara demokratis. Tapi jika tidak akan ada cap bahwa negara tidak demokratis. (Aduh nggak biasa aku pake kata2 aneh kaya gini, tapi lanjut dah…)

Nah, salah satu cara menyampaikan pendapat adalah lewat demontrasi. Segala macam unek-unek rakyat sampaikan dengan demontrasi. Namun sayangnya setiap kali demo, udah capek teriak-teriak, kepanasan, keanginan, keujanan, haus, laper lagi (pengalaman pribadi, hehehe….) eh ternyata ga direspon ama penguasa. Akhirnya gerakan pun berkembang ke arah yang lebih mencuri perhatian, ya minimal biar di liput media masa dulu lah, perbanyakin ajak orang yang demo terus negosiasi sama satuan penjaga kemanan (entah polisi atau apapun), “pak ntar dorong-dorongan sedikit ya, biar agak rame…”. Namun sayang beribu sayang, yang tadinya boongan, eh jadi beneran. Akhirnya bentrok secara nyata nggak terhindar. Tapi ternyata ada untungnya, media jadi lebih semangat nyoror yang lagi jotos-jotosan.

Mulai saat itulah sebuah pemahaman baru dimulai. Demontrasi klo nggak bisa bawa massa banyak ya buat ribut aja.

Tapi bukan itu kawan masalah utamanya. Masalahnya adalah saat menyampaikan pendapat di”tegakkan” namun nilai menghargai pendapat orang lain disisihkan, maka timbulah sebuah hukum rimba, yang kuat  yang menang. Saat berargumen tentu sebenarnya dapat dilihat siapa yang paling kuat, dari data dan fakta yang digunakan, dari teori yang disispkan akan membuat argumen seseorang itu kuat. Tapi balik lagi, ketika menilai pendapat orang lain dengan telinga tertutup dan menganggap lidahnya adalah lidah wali, maka kekuatan fisik dirasa akan lebih efektif untuk menyelesaikan masalah. Tidak lain dan tidak bukan demokrasi yang diperjuangkan menjadi sebuah arena ring tinju.

Kita tentu sudah tidak asing melihat anggota DPR yang saling hantam, demonstran yang merusak fasilitas publik, pemain bola yang menjadi petinju di lapangan, hanyalah sebuah contoh kecil yang menunjukan bahwa menyampaikan pendapat dengan otot akan lebih cepat selesai dari pada omong doang. Pertanyaanya sampai kapan kita maen pukul hanya gara-gara beda pendapat? Sampai kapan berhenti berkelahi yang katanya atas nama rakyat tapi sebenernya memperjuangkan kursi yg jua tak dapat? Apa mungkin ini tujuan sebenernya demokrasi yang katanya bermartabat? Ah ini hanya sebuah curhat….

One thought on “Demokrasi Anarkis

  1. Pingback: Demokrasi Anarkis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s