Ban ku… Ban ku…

Di SD ku dikuasai 3 dusun. Bugis tua, Kandang Sapi 1, dan kampungku Kertawinangun. Nah dusunku mungkin yg paling apes. Karena paling jauh dan jalnnya masih tanah. Jadi klo musim ujan sering diejek. Terlebih oleh anak-anak dari dusun Bugistua, karena berangkat dan pulangnya kami selalu lewat dusun itu. Karena udah panas ni telinga, kami jadi bales ngejek.

Puncaknya pas kami kelas 4 dusun bugistua yang merasa jadi tuan rumah marah. Mereka pun menggunakan kekerasan kepada kami. Tawuran pun terjadi. Setelah beberapa hari selalu terjadi, akhirnya para guru pun tau. Nah Wali kelas kami yg kebetualan dari Jowo, berkumis tebal, dan paling kelihatan sangar bergerak. Anak2 yg dari kedua dusun dikumpulin, terutama yg cowo, bahkan yg nggak ikut tawuran. Kami dimarahin, dan di cubit perutnya satu persatu. Rasanya suakit buangit… Tapi dari itu kami jadi baikan. (dasar anak-anak)

Nah pas pulang sekolah, entah karena karma atau apa??? Wali kelas kami yang berkumis gede, kami biasa nyebutnya pak kumis, tiba-tiba teriak-teriak…
“Ban ku… Ban ku….”
Ternyata roda depan sepedanya menggeliding sendiri meninggalkan  rangkanya. Pak Kumis pun jatuh dan ditertawain temen2 cewek yg didekat beliau. Siapa yg ngerjain beliau ya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s